KLIK DISINI

Informasi Penerimaan Anggota Baru

Loading...

Jumat, 01 Februari 2019

Pemuda Islam

PESAN-PESAN RASULULLAH SAW


PESAN-PESAN RASULULLAH SAW
P

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ t قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ  يَوْمًا فَقَالَ لِيْ : يَاغَلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ : اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظُكَ, اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ, إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ, وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باللهِ, وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ, لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ, وَإِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ, لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ, رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ. وَفِى رِوَايَةٍ غَيْرِ التِّرْمِذِي : اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ, تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِى الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِى الشِّدَّةِ……
 Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata, pada suatu hari saya berada di belakang Nabi saw, lalu beliau bersabda padaku : “Hai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat : “Peliharalah (batas-batas) Allah, niscya Allah memeliharamu, peliharalah (batas-batas) Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan bila kamu meminta pertolongan, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, jika seandainya seluruh mahluk berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan mampu memberikannya kepadamu kecuali sekedar apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk  untuk menimpakan kepadamu suatu bahaya, mereka tidak akan mampu menimpakannya atasmu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah atasmu. Telah diangkat kalam dan telah kering shuhuf”. HR. Tirmidzi. Katanya : hadits hasan shahih. Dan pada riwayat lain : “Peliharalah (batas-batas) Allah pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu, ingatlah kepada Allah pada saat bahagia, niscaya Dia mengingatmu pada saat kamu susah…..”.

PENJELASAN

Hadits ini mengandung pesan-pesan yang agung dan nasihat-nasihat yang berharga bagi kaum muslimin, yaitu :
1.       اِحْفَظِ اللهَ  (= Peliharalah Allah).
Maksudnya peliharalah batas-batas Allah, hak-hak-Nya, perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya. Siapa saja yang dapat melakukannya dengan sempurna itulah orang-orang yang telah dipuji oleh Allah swt dalam firman-Nya :
هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33)
  Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat”. (QS. Qaf/50:32-33).
Ada beberapa hal yang oleh  Al Qur’an dan Hadits disebutkan secara tegas agar dipelihara dengan seksama, antara lain :
1)       Shalat,sebagaimana firman-Nya :
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ(238)
 “Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’”. (QS. Al Baqarah/2:2380).
Firman-Nya pula :
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ(9)
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya”. (QS. Al Mu’minun/23:9).
Sabda Rasululullah saw : “Barangsiapa yang memelihara shalat Allah sudah berjanji kepadanya bahwa ia akan dimasukkan ke surga”.
Sabdanya lagi :
مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ نُوْرًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Barangsiapa yang memelihara shalat  ia akan mendapatkan cahaya, penerangan dan keselamatan pada hari kiamat”.
2)       Thaharah (bersuci), sebagaimana sabda Nabi saw :
لاَيُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوْءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ
“Tidak ada yang memelihara wudhu melainkan orang mu’min.
3)       Al Aiman (sumpah), sebagaimana firman Allah swt :
وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ
“Dan peliharalah sumpah-sumpahmu”.  (QS. Al Maidah/5:9)
4)       Pendengaran, penglihatan dan hati dari segala yang diharamkan; semua ini tercakup dalam firman Allah swt :
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً (36)
 “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al Isra/17:36).
5)       Kemaluan, sebagaimana firman-Nya :
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…”. (QS. An Nur/24:30).
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…”. (QS. An Nur/24:31).

وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ ….أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا(35)
“Laki-laki dan perempuan yang memelihara kemaluannya…. Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al Ahzab/33:35).
Sabda Nabi saw :
مَنْ حَفَظَ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ (رواه الحاكم)
“Barangsiapa yang memelihara apa yang ada antara dua bibirnya dan di antara dua kakinya pasti masuk surga”. (HR. Hakim).

2. يَحْفَظُكَ  (Allah pasti memeliharamu).
Maksudnya barangsiapa yang memelihara batas-batas atau hukum-hukum Allah, ia pasti dipelihara oleh Allah, sebagaimana firman-Nya :
وَأَوْفُوْا بَعَهْدِى أُوْفِ بِعَهِدِكُمْ
“Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu” (QS Al Baqarah/2:40).
فَاذْكُرُوْنِى أَذْكُرْكُمْ
“Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu”.(QS Al Baqarah/2:152).
إِنْ تَنْصُرُوْا اللهَ يَنْصُرْكُمْ
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu”. (QS. Muhammad/47:7).
Pemeliharaan Allah terhadap hamba-Nya mencakup dua hal : Pertama, pemeliharaan dalam urusan keduniaan, seperti memelihara kesehatan badannya, anaknya, keluarganya dan harta bendanya, sebagaimana firman-Nya :
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ
“Bagi manusia ada malaikat yang selalu mengikutinya secara bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah”. (QS. Ar Ra’du/13:11)
Malaikat yang menjaga itu disebut malaikat Hafazhah. Menurut Ibnu Abbas para malaikat itu menjaga keselamatan manusia dari segala kemungkinan bahaya yang akan menimpa. Sehubungan dengan itu Imam Ahmad, Abu Dawud dan Nasai dari Ibnu Abbas meriwayatkan :
لَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ r يَدَعُ هَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ حِيْنَ يَمْسِى وَحِيْنَ يُصْبِحُ : أَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ, اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى دِينِى وَدُنْيًايَ وَأَهْلِى وَمَالِى, اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى, وَاحْفِظْنِى مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِى وَعَنْ يَمِيْنِى وَعَنْ شِمَالِى وَمِنْ فَوْقِى, وَأَعُوْذُ بَعَظَمَتِكَ أَنِ اغْتَالَ مِنْ تَحْتِى.
“Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan do’a-do’a ini pada waktu petang dan pagi, (beliau membaca) : “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu ampunan dan kebaikan dalam agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutuplah aurat (aib)ku dan amankanlah rasa ketakutanku, dan peliharalah aku dari depanku dan dari belakangku, dari kananku dan dari kiriku, dan (juga) dari atasku; dan aku berlindung dengan keagungan-Mu akan bahaya yang datang dari bawahku”.                                                                                                                                         
Kedua, pemeliharaan Allah terhadap hamba-Nya dalam urusan agamanya dan imannya.  Maka terpeliharalah hidupnya dari hal-hal yang syubhat dan dari syahwat yang haram; ia dipelihara oleh Allah dalam agamanya hingga ia mati dalam keadaan iman dan Islam, sebagaimana firman-Nya :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ(102)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS Ali Imran/3:102)
Dalam Hadits riwayat Bukhari dan Muslim diterangkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan kepada sahabat Barra bin ‘Azib agar membaca dalam tidurnya :
إِنْ قَبَضْتَ نَفْسِى فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّلِحِيْنَ.

“(Ya Allah), jika Engkau ambil nyawaku maka rahmatilah dia, dan jika Engkau lepaskan (kembali)    maka peliharalah dia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamaba-Mu yang saleh.
Umar bin Khattab menceritakan bahwa Nabi saw membaca :
اَللَّهُمَّ احْفِظْنِى بِالإِسْلاَمِ قَائِمًا, وَاحْفِظْنِى بِالإِسْلاَمِ قَاعِدًا, وَاحْفِظْنِى بِالإِسْلاَمِ رَاقِدًا, وَلاَ تَطْمَعْ فِيَّ عَدُوًّا وَلاَ حَاسِدًا (رواه ابن حبان)
“Ya Allah, peliharalah aku dengan Islam kala aku berdiri, peliharalah aku dengan Islam kala aku duduk, peliharalah aku dengan Islam kala aku tidur, dan janganlah musuh dan orang dengki mencelakanku”. (HR. Ibnu Hibban).
Allah swt memelihara hamba-hamba-Nya yang memelihara batas-batas-Nya, baik dalam urusan keduniaannya, kesehatan badannya, anaknya, keluarganya, hartanya, maupun urusan agama dan keimanannya, sebagaimana Allah telah memelihara Nabi Yusuf dari perbuatan yang buruk. Allah berfirman :
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ(24)
“Demikiianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemunkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih”. (QS. Yusuf/12:24).
Firman-Nya :
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah mendinding antara manusia dan hatinya”. (QS. Al Anfal/8:24).
Kata Ibnu Abbas, ayat tersebut menerangkan bahwa Allah swt membuat dinding pembatas atau membikin jarak yang jauh antara seorang mu’min yang taat dengan kemunkaran dan kemaksiatan, sehingga ia terhindar dari kemunkaran dan kemaksiatan itu.

Pemeliharaan Allah terhadap hamba-hamb-Nya dari segala keburukan itu bermacam-macam. Hadits Qudsi berikut ini menjelaskan. Nabi saw bersabda, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ مِنْ عِبَادِى مَنْ لاَ يَصْلُحُ إِيْمَانُهُ إِلاَّ بِالْفَقْرِ, وَإِنْ بَسَطْتُ عَلَيْهِ أَفْسَدَهُ ذَلِكَ, وَإِنَّ مِنْ عِبَادِى مَنْ لاَيَصْلُحُ إِيْمَانُهُ إِلاَّ بِالْغِنَى, وَلَوْ أَفْقَرْتُهُ لأَفْسَدَهُ ذَلِكَ, وَإِنَّ مِنْ عِبَادِى مَنْ لاَيَصْلُحُ إِيْمَانُهُ إِلاَّ الصِّحَّةَ وَلَوْ أَسْقَمْتُهُ لأَفْسَدَهُ ذَلِكَ, وَإِنَّ مِنْ عِبَادِى مَنْ لاَيَصْلُحُ إِيْمَانُهُ إِلاَّ السَّقَمَ وَلَوْ أَصْحَحْتُهُ لأَفْسَدَهُ ذَلِكَ, وَإِنَّ مِنْ عَبَادِى مَنْ يَطْلُبُ بَابًا مِنَ الْعِبَادَةِ فَأَكْفَهُ عَنْهُ لِكَيْلاَ يَدْخُلُهُ الْعَجَبُ, إِنِّى أَدْبَرُ أَمْرَ عِبَادِى بِعِلْمِى بِمَا فِى قُلُوْبِهِمْ إِنِّى عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ. (رواه الطبرانى)

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku ada orang yang tidak dapat lurus imannya melainkan dengan kefakiran, dan jika aku bentangkan (rizki) kepadanya pasti akan membinasakannya, dan di antara hamba-hamba-Ku ada orang yang imannya tidak akan kuat melainkan dengan kekayaan, dan jika aku fakirkan dia, pasti (kefakiran itu) membinasakannya, dan di antara hamba-hamba-Ku ada yang imannya tidak akan tegak  melainkan dengan kesehatan, dan jika Aku memberinya sakit, pasti (sakitnya) itu membuat dia binasa, dan di antara hamba-hamba-Ku ada orang yang imannya tidak akan kuat melainkan dengan sakit, dan jika aku beri dia kesehatan, maka (kesehatannya itu) akan  mencelakakannya, dan di antara hamba-hamba-Ku ada (pula) yang berusaha keras dalam ibadah, lalu aku mencukupkannya agar ia tidak jatuh dalam sifat ujub (bangga). Sesungguhnya Aku memelihara urusan hamba-hamba-Ku dengan ilmu-Ku terhadap apa yang ada dalam hati-hati mereka, sesunguhnya Aku Maha Mengetahui, Maha Waspada”. (HR. Thabrani).
3.  اِحْفِظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ( peliharalah - batas-batas - Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu).
Maksudnya, barangsiapa yang memelihara batas-batas Allah dan memelihara pula hak-hak-Nya, ia pasti akan mendapatkan Allah selalu menyertainya dalam segala keadaan. Allah akan senantiasa memberikan pertolongan dan kemudahan kepadanya dalam segala situasi, sebagaimana firman-Nya :
إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ(128)
“Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. An nahl/16:128).
Penyertaan Allah terhadap hamba-hamba-Nya itu ada dua macam. Pertama, penyertaan yang khusus, yang mencakup pemberian pertolongan, kemudahan, keteguhan iman, sebagaimana yang diberikan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun.

قَالَ لاَ تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى (46)
Allah berfirman : “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. (QS. Thaha/20: 46)
إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
(Kata Nabi Musa): “Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS. Asy-Syu’ara/26:62).
Dan sebagaimana perkataan Rasulullah saw kepada Abu Bakar Shiddiq ketika mereka berdua bersembunyi dalam gua :
لاَتَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا
“Janganlah kamu berduka cita, sesunguhnya Allah beserta kita”. (QS. AT Taubah/9:40).
Kedua, penyertaan dalam arti pengawasan. Yaitu Allah swt  mengawasi dan mengetahui segala perbuatan manusia, sebagaimana firman-Nya :
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ هُوَ رَابِعُهُمْ وَلاَ خَمْسَةٍ إِلاَّ هُوَ سَادِسُهُمْ وَلاَ أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلاَ أَكْثَرَ إِلاَّ هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (7)

“Tidaklah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberi tahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka perbuat. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al Mujadilah/58:7).
3.  وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ ,وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ
(Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan bila kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah).
Sabda Rasulullah saw ini diambil dari firman Allah : إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ  (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan – Al Fatihah/1:5).
Permintaan adalah do’a dan harapan kepada Allah, dan do’a adalah ibadah (HR. Tirmidzi). Bahkan pokok dari ibadah (HR. Tirmidzi). Allah memerintah agar kita berdo’a hanya kepada-Nya (QS. Al Mu’min/40:60). Dan mohonlah kamu kepada Allah sebagian dari karunia-Nya (QS. An Nisa/4:32). Allah sangat menyukai   hamba-Nya apabila ia meminta kepada-Nya (HR. Tirmidzi). Dan barangsiapa yang tidak pernah meminta kepada Allah, Allah murka kepadanya (HR. Tirmidzi). Karena tiada sesuatu yang lebih dihargai oleh Allah daripada do’a (HR. Tirmidzi). Allah berjanji akan mengabulkan do’a hamba-Nya. Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman : “Siapakah yang berd’a kepada-Ku, lalu Aku tidak mengabulkannya? Siapakah yang meminta kepada-Ku, lau Aku tidak memperkenankannya? Dan siapakah yang meminta ampunan kepada-Ku, lalu Aku tidak mengampuninya? Aku adalah Maha Pengasih”. (Muhamali).
Dengan do’a manusia mengakui bahwa dirinya lemah dan membutuhkan pertolongan. Dan hanya Allah-lah yang dapat memberikan pertolongan itu. Karena itu memohon pertolongan kepada selain Allah dalam persoalan yang menjadi hak Allah adalah syirik. Adakah selain Allah yang dapat mengabulkan do’a? Allah berfirman :

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فلاَ رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (107)
“Dan jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberi kebaikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Yunus/10:107).
مَا يَفْتَحِ اللهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلاَ مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلاَ مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (2)
 “Apa yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak  ada seorangpun  yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Fathir/35:2).
Dalam hadits yang shahih Rasulullah saw pernah bersabda :

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بَاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ, وَمَنْ تَرَكَ اْلإِسْتَعَانَةَ بِاللهِ وَاسْتَعَانَ لِغَيْرِهِ وكَّلَهُ اللهُ إِلَى مَنِ اسْتَعَانَ بِهِ فَصَارَ مَخْذُوْلاً.

“Bekerjakan dengan semangat untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan memohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah, barangsiapa yang tidak  memohon pertolangan kepada Allah dan meminta tolong kepada selain-Nya, Allah akan menyerahkan dia kepada orang yang ia mintai pertolongannya, maka jadilah ia orang yang ditingalkan oleh Allah”.
Sebagian ulama salaf mengatakan :
يَا رَبِّ عَجِبْتُ لِمَنْ يَعْرِفُكَ كَيْفَ يَرْجُوْ غَيْرَكَ, وَعَجِبْتُ لِمَنْ يَعْرِفُكَ كَيْفَ يَسْتَعِيْنُ بِغَيْرِكَ

“Ya Tuhanku, aku merasa heran kepada orang yang mengenal-Mu, bagaimana bisa ia berharap kepada selain-Mu, dan aku heran kepada orang yang mengenal-Mu bagaimana mungkin ia memohon pertolongan kepada selain-Mu”.

4. وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ, لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ, وَإِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ, لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ, رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ .

Ketahuilah, jika seandainya seluruh mahluk berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan mampu memberikannya kepadamu kecuali sekedar apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk   menimpakan kepadamu suatu bahaya, mereka tidak akan mampu menimpakannya atasmu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah atasmu. Telah diangkat kalam dan telah kering shuhuf”

Kata “rufi’atil aqlam wa jafatish shuhuf” (telah diangkat kalam dan telah kering shuhuf) adalah kinayah atau kiasan tentang ketetapan/taqdir Allah atas mahluk-Nya yang tidak akan pernah berubah dan tidak akan ada yang mampu merubahnya dan ketetapan itu telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan mutlak atas mahluk-makhluk-Nya. Karena itu tidak ada seorangpun dari mahluk-Nya yang dapat memberi manfaat atau madharat kepada sesamanya kecuali sekedar apa yang telah ditetapkan Allah baginya. Allah berfirman :


مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُمْ إلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ(22)
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al hadid/57:22).
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ(51)

“Katakanlah : Sekali-kali tidak akan menimpa kami  melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS. At Taubah/9:51).
لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ
“Sekiranya kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditaqdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. (QS. Ali Imran/3:154).
Sehubungan dengan ini Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya pada tiap-tiap sesuatu itu terdapat hakikat, dan seorang hamba tidak akan sampai pada hakikat iman sehingga ia mengetahui bahwasanya apa saja yang menimpanya tidak akan mencelakakannya, dan apa saja yang akan mencelakannya tidak mungkin menimpanya (melainkan dengan izin Allah)”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
5. تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِى الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِى الشِّدَّةِ  (ingatlah Allah pada saat lapang, pasti Allah mengingatmu pada saat sulit).

Maksudnya, bila seseorang hamba bertaqwa kepada Allah dan memelihara segala batas-batas-Nya serta menunaikan hak-hak-Nya pada saat lapang dan bahagia berarti ia telah ma’rifat kepada Allah Allah, dengan demikian antara dirinya dengan Allah telah terjalin ikatan yang khusus. Maka Allah akan mengingatnya pada saat ia mengalami kesulitan dan Allah pasti akan menolongnya dan mengabulkan segala permintaannya.
Ma’rifat hamba kepada kepada Tuhannya itu ada dua macam. Pertama, ma’rifat yang umum, yakni meyakini dengan hatinya, mengikrarkan dengan lisannya tentang keimanannya kepada Allah swt, dan ini berlaku bagi setiap orang mu’min. Kedua, ma’rifat secara khusus, yaitu kecondongan hatinya kepada Allah secara sempurna, kecintaannya kepada Allah dengan sangat, ketenangan hatinya dengan dzikir kepada-Nya, merasa malu kepada-Nya, dan merasakan kehebatan-Nya.
Ma’rifat Allah terhadap hamba-Nya juga ada dua macam. Pertama, bersifat umum, yakni ilmu Allah Ta’ala atas segala persoalan hamba-hamba-Nya baik yang nyata ataupun yang tersembunyi, sebagaimana firman-Nya :
 “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui  apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (QS. Qaf/50:16). 
  هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ اْلأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ
 “Dan Dia lebih mengetahui  (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu”. (QS. An Najm/53:32).
Kedua, ma’rifat Allah secara khusus yang mencakup kecintaan dan kedekatan terhadap hamba-hamba-Nya, pengabulan do’anya dan menyelamatkannya dari segala kesulitan. Dan ini hanya diberikan khusus kepada hamba-hamba-Nya yang taqwa, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw, Allah berfirman :

لاَيَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبُّهُ, فَإِذَا أُحِبُّهُ كُنْتُ سَمِعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يِمْشِى بِهَا, وَلَئِنْ سَأَلَنِى لَأُعْطِيَنَّهُ, وَلَإِنِ اسْتَعَاذَنِى لَأُعِيْذَنَّهٌ.
“Hamba-Ku tak henti-hentinya mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnat sehingga Aku mencintainya. Bila Aku telah mengasihinya, men jadilah Aku Pendengarnya yaitu ia mendengar dengan pendengaran itu, dan penglihatannya yang ia melihat dengan penglihatannya itu, dan tangannya yang ia meraba dengan tangannya itu, dan kakinya yang ia berjalan dengan kakinya itu. Dan jika ia meminta kepada-Ku niscaya Aku memberinya, dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku melindunginya’.
Jadi, siapa saja yang bertaqwa kepada Allah pada saat lapang dan senang, maka Allah akan menyayanginya pada saat ia mendapat kesulitan. Rasulullah saw bersabda :
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيْبَ اللهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ فَلْيَكْثُرِ الدُّعَاءَ فِى الرَّخَاءِ
 “Barangsiapa yang ingin dikabulkan (do’anya) pada waktu kesusahan, maka perbanyaklah mendo’a pada waktu senang”. (Tirmidzi).
Nabi Yunus terkenal dengan kekhusyu’annya dalam berdo’a, ia tidak pernah berhenti berdo’a pada saat bahagia. Ketika ia mendapat kesulitan yang berat, do’anya didengar oleh Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi saw :
إِنَّ يُوْنُسَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ لَمَا دَعَا فِى بَطْنِ الْحُوْتِ قَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ : يَا رَبِّ هَذَا صَوْتٌ مَعْرُوْفٌ مِنْ بِلاَدٍ غَرِيْبَةٍ, فَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : أَمَا تَعْرِفُوْنَ ذَلِكَ؟ قَالُوْا : وَمَنْ هُوَ؟ قَالَ : عَبْدِى يُوْنُسْ, قَالُوْا : عَبْدُكَ يُوْنُسُ الَّذِى لَمْ يَزَلْ يَرْفَعُ لَهُ عَمَلٌ مُتَقَبَّلٌ وَدَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ؟ قَالَ : نَعَمْ, قَلُوْا : يَا رَبِّ أَفَلاَ تَرْحَمُ مَاكَانَ يَصْنَعُ فِى الرَّخَاءِ فَتُنَجِّيْهِ مِنَ الْبَلاَءِ؟ قَالَ بَلَى قَالَ : فَأَمَرَ اللهُ الْحُوْتَ فَطَرَحَهُ بِالْعَرَاءِ. (ابن أبى حاتم) 

“Sesungguhnya Yunus a.s. ketika berdo’a dalam perut ikan, berkatalah malaikat : Ya Tuhan, ini adalah suara yang sudah sangat kenal dari tempat yang jauh. Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : Bagaimana kamu mengenalnya? Kata para malaikat : Siapakah Dia itu? Allah berfirman : Hamba-Ku Yunus. Kata Para malaikat : Hamba-Mu Yunus yang tidak pernah berhenti melakukan amalan yang maqbul dan do’a yang mustajab? Firman Allah : Ya, benar! Kata malaikat : Ya Tuhan, apakah Engkau tidak kasihan kepada orang yang selalu berdo’a dalam kebahagiaan, lalu Engkau selamatkan dia dari kesulitan? Firman Allah : tentu saja. Maka Allah menyuruh kepada ikan itu, maka dilemparkannya ke tepi pantai”. (HR. Ibnu Abi Hatim).
Itulah yang dikatakan al Qur’an :
“Maka ia (Yunus) ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela . Maka kalau sekiranya  dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan  itu sampai hari berbangkit”. (QS. Ash Shaffat/37:142-144).